Radiojfm.com - Setiap kali Malam Satu Suro tiba, suasana di berbagai daerah di Pulau Jawa kerap terasa berbeda. Jalanan yang biasanya ramai mendadak lebih lengang, aktivitas masyarakat berkurang, dan sejumlah orang memilih menghabiskan malam dengan berdoa, berzikir, atau melakukan tirakat. Bagi sebagian masyarakat Jawa, malam pergantian tahun dalam kalender Jawa ini bukan sekadar momen pergantian waktu, melainkan malam yang sarat makna spiritual.
Sejak dahulu, Malam Satu Suro dikenal sebagai salah satu malam yang dianggap sakral. Beragam cerita dan kepercayaan turun-temurun berkembang di tengah masyarakat, salah satunya mengenai terbukanya "pintu dunia gaib" yang diyakini membuat interaksi antara alam manusia dan alam tak kasat mata menjadi lebih dekat.
Kepercayaan tersebut telah menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan lintas generasi. Tidak sedikit masyarakat yang meyakini bahwa pada malam tersebut berbagai kejadian di luar nalar lebih mudah terjadi. Mulai dari kemunculan sosok misterius, suara-suara aneh di tengah malam, hingga mimpi yang terasa sangat nyata sering dikaitkan dengan datangnya Malam Satu Suro.
Meski belum pernah dapat dibuktikan secara ilmiah, kisah-kisah semacam itu terus bertahan dan menjadi bagian dari kekayaan budaya lisan masyarakat Jawa. Cerita yang beredar dari mulut ke mulut membuat nuansa mistis Malam Satu Suro tetap hidup hingga sekarang.
Belakangan, pembahasan mengenai malam keramat ini kembali ramai di media sosial. Salah satu akun TikTok, @initial.dk atau Initial D, mengunggah potongan wawancara antara komedian sekaligus kreator konten Raditya Dika dengan seniman dan presenter Soimah.
Dalam cuplikan video tersebut, Soimah mengaku sering mengalami gangguan yang berhubungan dengan hal-hal gaib setiap kali Malam Satu Suro datang. Pengakuan tersebut sontak menarik perhatian warganet dan memicu beragam tanggapan.
Video yang diunggah oleh akun @initial.dk alias initial D tersebut berhasil mencuri perhatian publik dengan raihan lebih dari 401 ribu tayangan dan ribuan tanda suka. Banyak pengguna media sosial yang ikut membagikan pengalaman serupa, sementara sebagian lainnya menganggapnya sebagai bagian dari cerita dan kepercayaan yang berkembang di masyarakat.
Selain cerita mistis, Malam Satu Suro juga identik dengan berbagai pantangan yang masih dipercaya oleh sebagian kalangan. Beberapa orang meyakini bahwa malam tersebut bukan waktu yang tepat untuk menggelar hajatan besar seperti pernikahan, pindah rumah, atau memulai usaha baru.
Dalam pandangan masyarakat tradisional Jawa, Malam Satu Suro lebih dianjurkan untuk digunakan sebagai waktu perenungan diri, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta mendekatkan diri kepada Tuhan. Karena itu, banyak kegiatan spiritual dan ritual budaya digelar untuk menyambut datangnya tahun baru Jawa.
Di sejumlah daerah, para orang tua juga masih sering mengingatkan anak-anak mereka untuk tidak berkeliaran pada malam tersebut tanpa keperluan penting. Nasihat itu bukan semata-mata karena rasa takut terhadap hal-hal gaib, melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai budaya dan tradisi leluhur yang telah diwariskan selama ratusan tahun.
Di era modern saat ini, kepercayaan mengenai Malam Satu Suro memang dipandang beragam. Sebagian masyarakat masih meyakininya, sementara yang lain menganggapnya sebagai bagian dari folklore atau warisan budaya yang patut dihormati tanpa harus dipercaya sepenuhnya.
Namun satu hal yang tidak dapat dipungkiri, Malam Satu Suro tetap memiliki tempat istimewa dalam kehidupan masyarakat Jawa. Ia bukan hanya tentang cerita mistis atau mitos yang berkembang, tetapi juga menjadi pengingat tentang pentingnya refleksi diri, menjaga keseimbangan hidup, dan menghormati warisan budaya yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat.
Tak heran jika setiap kali Malam Satu Suro datang, suasana yang berbeda kembali terasa. Tradisi, doa, dan cerita-cerita yang menyertainya seakan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari identitas budaya Jawa yang masih bertahan hingga hari ini.***

0 Komentar